Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jadi Tujuan Pariwisata, Bali dan Nusa Tenggara Harus Tetap Kondusif

Bali dan Nusa Tenggara harus menjaga keamanan dan stabilitas politik untuk mendukung pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah tersebut.
Motor untuk penyewaan berjejer di jalanan Kuta, Bali pada Rabu (15/3/2023). Sepeda motor sewaan banyak digunakan turis atau wisatawan asing untuk mobilitas di Bali. / Bloomberg-Nyimas Laula
Motor untuk penyewaan berjejer di jalanan Kuta, Bali pada Rabu (15/3/2023). Sepeda motor sewaan banyak digunakan turis atau wisatawan asing untuk mobilitas di Bali. / Bloomberg-Nyimas Laula

Bisnis.com, DENPASAR — Kondisi provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) harus terus dijaga kondusif karena menjadi tujuan pariwisata dunia. 

Terutama Bali yang menjadi pintu masuk wisatawan mancanegara dengan rata-rata kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di atas 6 juta per tahun. Begitu juga NTB dan NTT yang pariwisatanya sedang bergeliat dan mulai dilirik dunia. 

Pengamat Ekonomi Universitas Pendidikan Nasional, Ida Bagus Raka Suardana, menjelaskan bahwa Bali dan Nusa Tenggara menggantungkan kehidupannya pada sektor pariwisata. Lebih-lebih Bali, hampir seluruh sendi perekonomian, mulai dari hotel, restoran, transportasi, perdagangan hingga sektor informal, sangat bergantung pada kedatangan wisatawan. 

Kondisi ini membuat Bali dan Nusa Tenggara sangat sensitif terhadap isu keamanan dan stabilitas politik. Menurutnya fenomena politik terkini memperlihatkan meningkatnya tensi sosial dengan maraknya aksi demonstrasi dalam dua hari terakhir, termasuk yang berlangsung pada 30 Agustus 2025 di depan Polda Bali dan kawasan Niti Mandala, dekat Gedung DPRD Bali. 

"Aksi massa tersebut sempat hampir berlangsung anarkis, menimbulkan keresahan, serta menjadi perhatian publik luas. Situasi ini dengan cepat tersebar melalui media dan platform internasional, menciptakan kekhawatiran akan kondisi keamanan di Bali. Kita pernah memiliki pengalaman pahit saat pariwisata Bali dan Nusa Tenggara lumpuh akibat tragedi bom Bali dan pandemi Covid-19. Dua peristiwa besar itu menunjukkan betapa rapuhnya fondasi ekonomi yang bertumpu pada pariwisata," jelas Suardana saat dikonfirmasi Bisnis, Minggu (31/8/2025).

Raka menyebut dua peristiwa besar yang pernah terjadi sekaligus memberikan pelajaran bahwa keamanan dan stabilitas adalah kunci utama keberlangsungan ekonomi daerah.

Demonstrasi yang berujung anarkis bukan hanya akan berdampak pada keamanan warga lokal, tetapi juga menggerus rasa aman wisatawan yang sensitif terhadap isu kerusuhan. Jika dibiarkan, citra Bali dan Nusa Tenggara di mata dunia bisa saja akan tercoreng, kepercayaan investor akan melemah, dan sektor pariwisata bisa kembali merosot.

Suardana juga menyebut menjaga kondusifitas adalah untuk kepentingan bersama, tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. Perbedaan pandangan politik seharusnya tidak menjadi alasan untuk merusak stabilitas yang justru akan menghantam ekonomi rakyat sendiri.

"Kita harus sadar bahwa keamanan adalah modal utama pariwisata. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Bali dan Nusa Tenggara perlu menahan diri, mengedepankan dialog damai, serta bersama-sama menjaga citra positif daerah," kata Suardana.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro